, Jakarta - Viral video di sejumlah kanal media sosial yang menampilkan seorang staf di bagian sumber daya manusia (SDM) atau human resource development (HRD), yang menyatakan job fair hanya sebatas formalitas. Dia menyebut penyelenggaraan ajang bursa kerja hanya untuk memenuhi indikator kinerja utama dari dinas terkait.
“ Job fair itu omong kosong. Itu buat branding-nya (pencitraan) kantor. Bahkan biasanya kerja sama dinas, kementerian terkait untuk KPI-nya (key performance indicator) orang kedinasan itu, ” kata pria dalam video yang dilihat Tempo di akun X (Twitter) @toe_giman, Rabu, 4 Juni 2025.
Lantas, seperti apa asal-muasal job fair ?
Sejarah Job Fair
Melansir Career Scoops , konsep job fair yang juga dikenal sebagai career day atau career fair dapat ditelusuri ke abad ke-19 ketika perguruan tinggi mulai menyelenggarakan acara untuk menghubungkan para mahasiswanya dengan pemberi kerja. Pertemuan itu awalnya difokuskan untuk memfasilitasi penempatan kerja bagi alumni.
Selama Perang Dunia I dan Perang Dunia II, permintaan akan pekerja terampil terus meningkat. Ajang job fair pun memainkan peran penting dalam menyeleksi tenaga kerja guna mengatasi kekurangan pekerja di berbagai industri akibat perang yang berkepanjangan.
Setelah Perang Dunia II, sekolah dan perguruan tinggi mulai mengadakan acara yang bertujuan untuk memberikan siswa dan mahasiswa wawasan tentang berbagai pilihan karier. Selain itu, bursa karier juga diselenggarakan untuk memberikan pengetahuan kepada siswa mengenai keterampilan yang diperlukan agar bisa sukses di dunia kerja.
Pada 1960-an dan 1970-an, konseling di bidang karier mulai menonjol. Acara seperti job fair pun menjadi elemen utama dalam proses konseling itu, di mana para konselor pembimbing akan membantu para siswa atau mahasiswa dalam mengeksplorasi berbagai jenis profesi dan sektor industri.
Respons Menaker
Sebelumnya, Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli menanggapi kabar mengenai job fair, yang dianggap sebagai sebuah formalitas. Isu tersebut muncul setelah penyelenggaraan Job Fair Bekasi Pasti Kerja 2025 oleh Dinas Ketenagakerjaan (Disnaker) Kabupaten Bekasi di President University, Jababeka Convention Centre, Cikarang, Bekasi, Jawa Barat pada Selasa, 27 Mei lalu, yang menuai sorotan publik.
“(Harapannya) Jangan sampai ada isu (tentang job fair hanya sebagai) formalitas, lowongannya sedikit, tentu kita tidak berharap hal itu terjadi. Kalau tidak siap (mengadakan), ya, jangan dilaksanakan,” ucap Yassierli di Jakarta, Rabu, 4 Juni 2025, seperti dikutip dari Antara .
Menaker mengingatkan betapa pentingnya kesiapan penyelenggara sebelum mengadakan job fair . Tujuannya agar bursa kerja dapat terlaksana dengan lebih efisien dan terkendali.
“Kalau mau melaksanakan job fair, mohon diperhatikan risiko-risikonya. Kita berharap bahwa job fair itu hadir sebagai bukti kehadiran pemerintah,” ujar Yassierli.
Menurut Yassierli, job fair bukan hanya semata-mata sebagai lokasi bagi pencari dan pemberi kerja untuk bertemu, tetapi juga wadah untuk memperluas relasi dan meningkatkan kompetensi melalui fasilitas yang disediakan.
Dia memberi contoh, seperti Job Fair 2025 yang diselenggarakan Kemnaker beberapa waktu lalu, terdapat fasilitas konsultasi bagi pencari kerja, wawancara di tempat atau walk-in interview , kesempatan untuk meningkatkan kompetensi melalui balai-balai pelatihan, hingga sesi bincang-bincang ( talkshow ) oleh narasumber yang relevan.
“Saya yakin, apa yang kita bangun bersama itu diapresiasi oleh pihak perusahaan, dan memang itu adalah satu kewajiban dari perusahaan untuk wajib lapor lowongan pekerjaan, dan dari kita akan kejar terus itu, hingga dapat memberikan distribusi kepada saudara-saudara kita yang memang sedang mencari kerja,” kata Yassierli.
Comments
Post a Comment